Our Trusted. 24 x 7 hours free delivery!

Biologi Lebah Madu

Lebah madu adalah serangga eusosial yang termasuk dalam ordo Hymenoptera yang merupakan satu ordo dengan tawon. Lebah madu dapat dibedakan dengan jenis tawon secara mudah berdasarkan pada anatomi, fisiologi, dan perilakunya dalam menemukan pakan serta jenis pakannya.

  1. Bagian toraks lebah banyak terdapat rambut, sedangkan umumnya tawon tidak banyak.
  2. Ukuran tubuh lebah madu cenderung lebih kecil dibanding­kan dengan tawon.
  3. Apabila lebah madu menyengat maka sengat akan tertinggal pada tempat yang disengat dan lebahnya akan segera mati. Sedangkan tawon, apabila menyengat, sengat tidak terting­gal di tempat yang disengat dan masih dapat meneruskan hidupnya.
  4. Lebah merupakan serangga sosial yang mempunyai seekor ratu yang jelas, sedangkan tawon tidak mempunyai ratu yang jelas dan biasanya hidup secara sendiri.
  5. Kebanyakan jenis lebah memberi makan larvanya dengan nektar dan polen daripada memberi makan dengan pakan binatang/serangga lain. Sedangkan sebagian besar jenis tawon inangnya adalah serangga lain, baik sebagai predator maupun parasitoid.

Tubuh lebah terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, dada, dan perut. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk sebagai alat penglihatan yang mampu melihat bentuk dan warna benda dalam jarak mencapai 140 m, selain itu mempunyai tiga mata tunggal yang berfungsi untuk melihat benda yang sangat dekat, 1-2 cm. Mata lebah mampu membedakan warna ultraviolet, biru, hijau muda, dan kuning yang memiliki panjang gelombang antara 300-650 mp.

Mata bagi lebah sangat penting kegunaanya. Lebah pekerja mempunyai penglihatan yang sangat tajam, sehingga mampu mengenali bunga-bunga yang mempunyai kualitas nektar terbaik kemudian diberitahukan kepada teman-temannya sebagai proses rekruitmen dalam pencarian pakan.

Lebah mempunyai tipe alat mulut penggigit-pengisap yang terdiri atas sepasang mandibula, berfungsi sebagai gigi, digunakan untuk membuat sarang dan pertahanan diri, dan terdapat glossa pada gian tengah untuk mengisap cairan makanan dan memberi makan arva. Pada bagian kepala terdapat antena yang berfungsi sebagai indera perasa dan peraba. Antena sangat penting bagi lebah madu sehubungan dengan pencarian pakan dan komunikasi, khususnya dalam menginterpretasikan tarian lebah yang dilakukan oleh lebah yang telah mendapatkan pakan.

Pada lebah-lebah yang dipelihara di dalam kotak kaca, menunjukkan lebah penemu pakan pertama kali menginformasikan keberadaan pakan maupun jarak pakan dari sarang kepada lebah pekerja lainnya dengan menggunakan tarian. Lebah pekerja yang lain mengikuti tarian lebah penemu pakan pertama, mendeteksi dengan menempelkan antenanya, dan merasakan makanan yang dikeluarkan oleh lebah penemu pakan pertama.

Variasi tarian lebah menunjukkan perbedaan jauh dekatnya pakan dengan sarang lebah. Secara umum tarian lebah tersebut dapat dikategorikan ke dalam tiga tarian, yaitu tarian membulat, tarian membentuk angka delapan, dan menggetarkan bagian gasternya (dorsoventral abdominal vibrating [DVAV]).
Dada lebah merupakan bagian tubuh yang penting sebagai tempat melekatnya alat gerak (organ penggerak), yaitu sayap dan kaki. Lebah memiliki dua pasang sayap, sayap depan lebih lebar dari- pada sayap belakang. Lebah dapat terbang pada jarak yang sangat jauh menggunakan sayap, gerakan sayap dibantu otot-otot dada, se- hingga sayap bergerak ke atas dan ke bawah. Lebah madu mampu terbang menempuh jarak 46 km dengan kecepatan 65 km/jam, se- dangkan kecepatan getaran sayapnya mencapai 250 kali/detik. Untuk mengumpulkan 1 kg madu, seekor lebah madu harus melakukan pe- nerbangan 90.000—180.000 kali dan harus mengunjungi berbagai bu- nga untuk mengambil nektar dan polennya sebelum pulang ke sarang. Jika sekali penerbangan pulang-pergi lebah madu menempuh jarak 3 km, lebah madu akan menempuh jarak 3 x 90.000—3 x 180.000 km atau paling sedikit harus terbang 7 kali keliling bumi

Baca Juga :

Dada lebah madu merupakan gabungan dari empat bagian ruas tubuh. Ruas pertama dinamakan protoraks, merupakan tempat ber- ngkalnya kaki depan. Ruas kedua dinamakan mesotoraks, merupakan tempat berpangkalnya sayap depan dan kaki tengah. Ruas ketiga dinamakan metatoraks, yaitu tempat melekatnya sepasang sayap dan kaki belakang. Ruas keempat dinamakan propodeum yang sebenar-ya merupakan ruas pertama abdomen (perut), tidak mempunyai alat tambahan apapun.
Adaptasi morfologi pada lebah sehubungan dengan pengumpulan polen termasuk rambut-rambut yang bercabang dan biasanya bagian kaki belakang basitarsus terdapat rambut-rambut yang berbentuk seperti sikat (scopa) atau sederetan rambut-rambut kecil yang berada pada bagian yang cekung sebagai tempat untuk pengumpulan polen (corbicula). Polen dikumpulkan oleh lebah dengan menggunakan ram- but-rambut yang ada pada kakinya kemudian dimasukkan ke dalam alat mulutnya.
Pada bagian perut lebah madu betina terdapat sengat, tetapi pada lebah jantan dan ratu tidak ada. Para entomolog bersepakat bahwa sengat tersebut merupakan bentuk perubahan dari alat peletak telur (ovipositor). Sengat lebah digunakan untuk alat pertahanan diri.

Lebah madu termasuk serangga yang hidup berkoloni, terdiri atas tiga anggota masyarakat lebah madu, yaitu ratu, lebah jantan, dan lebah betina (pekerja). Pembagian kasta pada lebah madu ber- sifat tropogenik. Jumlah ratu dalam satu koloni satu ekor, lebah jantan berjumlah ratusan, dan lebah betina berjumlah ribuan. Jumlah koloni lebah madu dalam satu sarang dapat mencapai 100.000 ekor. Jumlah populasi lebah madu di dalam satu sarang tergantung pada kualitas dan potensi lebah madu ratu dalam mengontrol lebah pekerja.
Seekor lebah ratu mampu bertelur lebih dari 100.000 ekor. Lebah ratu merupakan petelur untuk menjamin kelestarian koloninya. Lebah ratu mampu menghasilkan telur yang akan menjadi lebah pekerja, lebah jantan, dan ratu. Hasil dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu ke- tersediaan ruangan, pakan, iklim/cuaca, dan tingkah laku lebah ratu. Lebah ratu hanya mengalami satu kali kawin selama masa hidupnya.
Ratu lebah mengontrol reproduksi pekerja dengan menggunakan feromon. Kelenjar mandibula ratu lebah memproduksi senyawa (E)-9- oxodec-2-inoic acid (9-ODA), tetapi penghalangan seekor ratu lebah madu yang sempurna terhadap lebah pekerja dalam perkembangan ovarinya lebih efektif daripada senyawa tersebut. Selain itu, terdapat feromon kedua yang berada pada gaster ratu dan bersama-sama n komponen kedua dari kelejar mandibula secara efektif mampu menghalangi perkembangan ovarium pada lebah pekerja.

Seekor ratu lebah madu dapat dikenali dari bentuk morfologinya, yaitu mempunyai gaster yang lebih panjang dari pekerja maupun y gaster lebah jantan. Selain itu, ratu lebah madu juga mengeluarkan feromon yang menyebabkan lebah pekerja mengerumuninya.

Ratu lebah madu bertelur pada setiap sel dengan cara menusukkan gaster ke dalam sel dan meletakkan telur pada dasar sel untuk calon lebah pekerja dan ”lebah jantan. Sedangkan untuk calon ratu, telur diletakkan dalam set dengan posisi kebalikan dari telur bakal lebah pekerja atau lebah jantan.

Pada saat bertelur, ratu lebah madu meninggalkan jejak yang disebut dengan foot-print pheromone.

Lebah jantan berasal dari telur yang tidak dibuahi, baik yang diletakkan oleh ratu maupun lebah pekerja yang ovariumnya berkem- bang dengan baik. Lebah jantan biasa disebut dengan drone. Lebah jantan hanya berperan sebagai pejantan, masa hidup lebah jantan sangat singkat, setelah mengawini lebah betina, lebah jantan akan segera mati karena organ genetalianya (aedeagus) tercabut keluar akibat perkawinan tersebut.

Lebah pekerja bersifat monomorfik. Lebah pekerja yang masih muda berada di dalam sarang, bertugas mengurusi larva dan mem- bersihkan set. Lebah pekerja tua bertugas mencari makan dan disebut juga sebagai field bees. Larva lebah madu yang diberi pakan royal jelly akan menjadi seekor lebah ratu, sedangkan larva yang diberi pakan dengan kandungan gula tinggi, asam pantotenat, dan biopterin yang dihasilkan dari kelenjar mandibula akan menjadi seekor lebah pekerja. Setelah 3 hari, telur-telur dan larva dapat dibedakan akan menjadi seekor pekerja atau ratu. Efek tropogenik tidak selalu ter- pisah dari efek endokrin. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya hubungan yang erat antara nutrien yang dikonsumsi lebah madu de- ngan aktivitas corpora allata.

Baca Juga :

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *.

    *
    *
    You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>